Diskusi Pakar Bidang Peningkatan Aksesibilitas Pangan yang Beragam

WNPG XI on 11:52

Sebagai rangkaian kegiatan Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WNPG) XI , Bidang 2 menyelenggarakan  Diskusi Pakar 1 dengan tema “Peningkatan Produksi Pangan yang Beragam untuk Perbaikan Gizi Keluarga pada tanggal 23 Februari 2018 di Hotel Aston, Jakarta. Hadir sebagai narasumber utama: Kepala Badan Ketahanan Pangan Dr. Ir. Agung Hendriadi, M.Eng, Drajat Martianto dari Institut Pertanian Bogor dll. Beberapa hal yang dihasilkan dari hasil presentasi dan diskusi diantaranya sebagai berikut:

  1. Dalam rangka mewujudkan kemandirian dan kedaulatan pangan, selain meningkatkan produksi pangan perlu juga diupayakan diversifikasi/penganekaragaman konsumsi pangan. Hal ini untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu atau dua jenis pangan pokok, terutama beras.
  2. Diversifikasi/penganekaragaman pangan merupakan kunci perbaikan gizi masyarakat yang pada akhirnya berdampak pada kualitas sumberdaya manusia yang dihasilkan. Hal ini karena tidak ada pangan yang mengandung semua zat gizi, sehingga semakin beragam pangan yang dikonsumsi, maka semakin lengkap zat gizi yang dikonsumsi.
  3. Diversifikasi/penganekaragaman pangan berbasis sumberdaya lokal dimaksudkan untuk menggali potensi pangan lokal dan kemudahan dalam memperoleh bahan pangan. Pangan lokal dimaksud tidak hanya pangan sumber karbohidrat, namun juga pangan sumber protein, vitamin, dan mineral seperti ikan, hewan ternak, sayur, dan buah-buahan. Indonesia merupakan negara terbesar kedua di dunia yang memiliki keanekaragaman hayati (biodiversity).
  4. Perlu pembaharuan terhadap peraturan/payung hukum mengenai diversifikasi/penganekaragaman konsumsi pangan serta alokasi anggaran yang memadai agar kegiatan tidak hanya berupa kampanye dan pameran saja, tetapi lebih kepada program-program aksi.
  5. Strategi pengembangan diversifikasi pangan dimulai dari sisi hilir, yaitu pengembangan teknologi pengolahan pangan/industri pangan lokal skala rumah tangga untuk menarik minat konsumsi pangan masyarakat. Selanjutnya diikuti dengan peningkatan produksi bahan baku pangan lokal.
  6. Pemenuhan pangan rumah tangga dapat dilakukan melalui pemanfaatan pekarangan. Indonesia memiliki potensi lahan pekarangan sebesar 10,3 juta ha dan potensi lahan marjinal 21 juta ha. Dalam hal ini BKP telah melaksanakan program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) dimana tahun 2018 akan dilaksanakan di 2300 titik KRPL yang tersebar di seluruh Indonesia dengan prioritas di wilayah rentan rawan pangan dan tinggi prevalensi stunting. Manfaat KRPL antara lain menjamin ketersediaan dan akses pangan rumah tangga, menghemat pengeluaran rumah tangga untuk membeli pangan (sampai 30%), meningkatkan kualitas konsumsi dan keamanan pangan, serta dapat menambah pendapatan rumah tangga.
  7. Potensi industri kuliner pangan lokal seiring dengan meningkatnya destinasi wisata menjadi tantangan untuk penyediaan pangan lokal.
  8. Pengetahuan gizi merupakan salah satu upaya untuk menurunkan stunting, disamping juga perilaku hidup (behavior). Berdasarkan hasil penelitian, pada kelompok masyarakat yang sangat miskin sebanyak 48% mengalami stunting dan pada kelompok masyarakat yang sangat sejahtera ternyata juga ada 29% mengalami stunting. Hal ini menunjukkan bahwa materi/pendapatan bukan satu-satunya penyebab stunting, namun juga pengetahuan gizi dan perilaku hidup.
  9. Masalah stunting bukan hanya sekedar masalah anak pendek tetapi juga dampak kesehatan jangka panjang yang memiliki konsekuensi terhadap kualitas sumberdaya manusia dan kerugian negara yang ditimbulkannya.
  10. Penyebab stunting berbeda-beda untuk setiap wilayah, sehingga diperlukan penanganan yang berbeda-beda. Seperti di Asmat sanitasi, kebiasaan hidup, dan KLB campak menjadi penyebab utama masalah gizi/stunting, sementara di Jayawijaya dan Yahukimo akses pangan menjadi penyebabnya.
  11. Penyebab dasar (basic factor) stunting diantaranya kondisi sosial, ekonomi, politik, kemiskinan, pendidikan, pendapatan. Penyebab tak langsung (underlying factor) diantaranya ketahanan pangan rumah tangga, praktek pengasuhan, sanitasi lingkungan, dan layanan kesehatan. Adapun penyebab langsungnya adalah asupan pangan dan kesakitan/infeksi.
  12. Berdasarkan hasil penelitian, stunting berkorelasi negatif dengan penganekaragaman pangan yang artinya semakin beragam pangan yang dikonsumsi, maka dapat menurunkan prevalensi stunting. Selain itu, disebutkan pula konsumsi pangan sumber protein hewani mampu menurunkan resiko stunting dan underweight. Dengan demikian program penganekaragaman pangan ditekankan untuk meningkatkan keanekaragaman pangan yang dikonsumsi, baik dari jenis maupun kualitasnya.
  13. Intervensi pemberian susu tidak tepat ditujukan untuk masyarakat miskin, karena produk susu mudah rusak, sehingga dapat menjadi sumber infeksi penyakit seperti diare yang akan berdampak pada masalah gizi, termasuk stunting.

Pada tanggal 17 April 2018, bertempat di Hotel Akmani, Jakarta,  Bidang 2 WNPG XI kembali menyelenggarakan Diskusi Pakar II dengan Tema:  Akses Penyediaan Pangan yang Beragam, Bergizi, dan Terjangkau untuk mensukseskan penyelenggaraan WNPG XI pada bulan Juli 2018. Pada kesempatan ini hadir pakar dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Bappenas, Kementerian Sosial, LIPI, Kementerian Perhubungan, Kementerian Kesehatan dan Universitas Gadjah Mada. Hal hal yang dibahas antara lain: Program Penangan Fakir Miskin oleh Kementerian Sosial, Sinergi program-program KKP dengan kementerian lainnya seperti Kemensos, Kemendiknas, Kemenkes, dll untuk menjangkau konsumsi ikan bagi seluruh manusia,  Kebutuhan Gizi, Produk Perikanan, dan Teknologi Tepat Guna, Kebijakan dan Strategi Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum dalam Rangka Upaya Penurunan Stunting